Analisis Yuridis Penyelesaian Sengketa Tanah Waris yang Belum Bersertifikat di Pengadilan Agama/Negeri
DOI:
https://doi.org/10.63822/tkhk8e46Keywords:
inheritance dispute; uncertified land; Religious Court; District Court; proof of land rightsAbstract
Disputes over uncertified inherited land trigger serious issues regarding proof of rights, overlapping legal aspects, and the absolute competence of the Religious Court (PA) and the District Court (PN). This normative legal study, utilizing statutory, conceptual, and case approaches, examines the legal basis, judicial competence, evidentiary strength, and litigation obstacles of such cases. The results indicate that inheritance disputes among Muslims fall under the absolute competence of the PA. However, if they involve third parties, non-Muslims, or tort (perbuatan melawan hukum) claims, the PN may have jurisdiction depending on the legal construction. Evidentiary proof for uncertified land relies on girik, letter C, inheritance certificates, witnesses, and physical possession, although its strength remains inferior to registered land. Ultimate legal certainty must be pursued through land administration formatting via inheritance rights registration and certification.
References
Adicahya, A. (2023). Mengakhiri ambiguitas kewenangan absolut peradilan agama dalam sengketa waris. Jurnal Yudisial, 16(2), 145–168. https://jurnal.komisiyudisial.go.id/jy/en/article/view/624
Anggriawan, T. P. (2024). Analisis kewenangan hakim dalam mengadili sengketa kepemilikan atas objek waris. International Journal of Social Science and Human, 4(1), 78–92. https://journal.publication-center.com/index.php/ijssh/article/view/1659
Azhari, M. (2021). Netralitas aparatur sipil negara dalam pemilihan kepala daerah: Antara norma hukum dan patronase politik lokal. Jurnal Konstitusi, 18(3), 421–445. https://doi.org/10.31078/jk1831
Badan Pertanahan Nasional. (2020). Peraturan dan pedoman pendaftaran tanah serta peralihan hak karena waris. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
Dwianto, A. (2022). Batasan kompetensi absolut pengadilan agama dalam sengketa waris. Mahakim: Journal of Islamic Family Law, 6(2), 112–130. https://jurnalfasya.iainkediri.ac.id/index.php/mahakim/article/view/144
Fauzan, M., & Rahayu, S. (2022). Merit system dan problem politisasi birokrasi daerah dalam pemilihan kepala daerah. Jurnal Bina Praja, 14(2), 201–216. https://doi.org/10.21787/jbp.14.2022.201-216
Hadikusuma, H. (2018). Hukum waris adat. Citra Aditya Bakti.
Hadjon, P. M. (2011). Perlindungan hukum bagi rakyat di Indonesia. Peradaban.
Harahap, M. Y. (2017). Hukum acara perdata. Sinar Grafika.
Hidayat, T. (2023). Perlindungan hukum terhadap aparatur sipil negara dalam pelanggaran netralitas pemilu dan pemilihan kepala daerah. Jurnal Rechtsvinding, 12(1), 89–107. https://doi.org/10.30641/rechtsvinding.2023.v12.1.89-107
Indonesia. (1941). Herzien Inlandsch Reglement (HIR) / Rechtreglement voor de Buitengewesten (RBg). Staatsblad Tahun 1941 Nomor 44.
Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Indonesia. (1960). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104.
Indonesia. (1989). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 49.
Indonesia. (1991). Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
Indonesia. (1997). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59.
Indonesia. (2006). Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 22.
Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 159.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2024). Kumpulan putusan Mahkamah Agung dan/atau pengadilan yang relevan mengenai sengketa waris, sengketa kepemilikan tanah waris, dan kompetensi absolut Pengadilan Agama/Pengadilan Negeri. Mahkamah Agung RI.
Marzuki, P. M. (2021). Penelitian hukum (Edisi revisi). Kencana.
Mertokusumo, S. (2019). Hukum acara perdata Indonesia. Liberty.
Parlindungan, A. P. (2009). Pendaftaran tanah di Indonesia. Mandar Maju.
Putri, D. A., & Kurniawan, B. (2021). Netralitas birokrasi dan demokrasi lokal: Kajian terhadap keterlibatan ASN dalam Pilkada. Jurnal Wacana Politik, 6(2), 135–150. https://doi.org/10.24198/jwp.v6i2.33644
Rahman, F. (2022). Perlindungan preventif dan represif bagi ASN dari tekanan politik kepala daerah. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 29(4), 711–734. https://doi.org/10.20885/iustum.vol29.iss4.art1
Santoso, U. (2021). Hukum agraria: Kajian komprehensif. Kencana.
Sari, A. P. (2022). Kompetensi absolut peradilan agama dalam menyelesaikan sengketa waris. Journal of Lex Generalis, 3(2), 1–15.
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. RajaGrafindo Persada.
Subekti. (2017). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, Original work published 1847). Balai Pustaka.
Syarifuddin, A. (2014). Hukum kewarisan Islam. Kencana.
Thoha, M. (2014). Birokrasi politik di Indonesia. Rajawali Pers.
Wahyuni, S. I. N. (2025). Peran peradilan agama dalam penetapan ahli waris. Majalah Hukum Islam, 9(2), 205–221. https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/MHI/article/view/2440
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jenal Abidin, Aturkian Laia (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



