Tor-Tor Raja-Raja sebagai Identitas Budaya Masyarakat Jorong Silayang Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat

Authors

  • Zahratun Nisa Institut Seni Indonesia Padangpanjang Author
  • Hardi Hardi Institut Seni Indonesia Padangpanjang Author
  • Auliana Mukhti Institut Seni Indonesia Padangpanjang Author
  • Oktavianus Oktavianus Institut Seni Indonesia Padangpanjang Author

DOI:

https://doi.org/10.63822/hcccn940

Keywords:

Tor-tor Raja-Raja, cultural identity, Silayang Mandailing community.

Abstract

This research aims to examine Tor-tor Raja-Raja as the cultural identity of the Mandailing community in Jorong Silayang, Ranah Batahan District, West Pasaman Regency. This study employed a qualitative method with a descriptive approach to describe factually the existence and implementation of Tor-tor Raja-Raja in community life. The theories used in this research are cultural identity theory by Alo Liliweri and Jonathan Rutherford, as well as performance structure theory by R. M. Soedarsono. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation involving traditional leaders, artists, and local community members. The results show that Tor-tor Raja-Raja is a cultural identity passed down from generation to generation and is still preserved today. This dance is characterized by performers from traditional leadership groups or kings, an odd number of dancers, and performances limited to certain traditional ceremonies such as weddings and welcoming honored guests. Furthermore, Tor-tor Raja-Raja functions as a means of respect, reinforcement of customary values, and social communication within Mandailing society.      

References

Anwar, M. saiful. (2025). holong mangalap holong. PT. Inovasi Pratama Internasional. https://books.google.co.id/books?id=Li6aEQAAQBAJ&lpg=PP1&hl=id&pg=PP3#v=onepage&q&f=false

AYU, W. (2020). Bentuk pertunjukan Tor-tor Pengantin di Jorong Sungai Tanang Kecamatan Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat Skripsi.Institut Seni Indonesia Padang Panjang.

Burngin, B. (2013). Metode penelitian sosial dan ekonomi. kencana.

Cahyati, dwi irna. (2021). Kedudukan penghulu dalam Tor-tor Raja-Raja pada upacara perkawinan suku Mandailing di Nagari Silayang Kabupaten Pasaman Barat.Skripsi. Institut Seni Indonesia Padang Panjang.

Daryusti. (2006). Hagemoni penghulu dalam perspektif budaya. multi grafindo.

Dessy, A. (2002). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. amelia surabaya. surabaya.

Harisan, firmando B. (2021). Kearifan lokal sistem kekerabatan Dalihan na tolu dalam merajut harmoni sosial di kawasan Danau Toba. Aceh Antropological Journal, 5, No.1, 16–36.

Hadi sumandiyo y. (2007). kajian tari: Teks dan konteks. Pustaka publiser.

Hardi. (2015). Karakteristik karya tari Syofyani dalam berkreativitas tari Minangkabau di Sumatera Barat. Jurnal Ekspresi Seni, 17(1), 57–70.

Harymawan. (1993). Dramaturgi. PT Remaja Rosdakarya.

Herdiani, E. (2023). rias busana karya tari HEN TO : Pakaian tradisonal suku dayak kayaan sebagai inspirasi. Jurnal Isbi.

I, dibia wayan. (2006). tari komunal. lembaga pendidikan seni nusantara.

Indrayuda, H. F. &. (2023). Hegemoni penghulu dalam tari Tor-tor Raja-Raja di Jorong Silayang Nagari Batahan Kecamatan Pasaman Barat. Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan, 1 Nomor 1, 257–266.

Liliweri, A. (2007). Makna budaya dalam komunikasi antar budaya. lkis yogyakarta.

Moelong, L. J. (2001). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Magfirah, A. m. (2023). Tari Tanduak dalam kehidupan masyarakat Nagari Lubuak Tarok Kabupaten Sijunjung: Suatu kajian semiotika. Garak Jo Garik: Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Seni, 1(2), 69–78.

martin jhon. (1965). the modren dance. dance harizon.

Oktavianus, o., & wardimetro. (2022). nilai estetika tari dalam kesenian ronggiang pada mastarakat multietnis pasaman barat. Deskovi: Jurnal Seni Dan Desain, 5(2), 101–108.

Renti, M. (2018). Tari Salimpiri Kayangan tinggi sebagai identitas budaya di kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan. Skripsi. Institut Seni Indonesia Padang Panjang.

Said, A. . (2004). simbiolisme unsur visual ruumah toraja dan perubahan aplikasi pada desain modren. ombak.

Sedyawati, E. (1991). Seni dalam masyarakat Indonesia. PT. Gramedia Pustaka utama.

Sitanggang, V. K., Pardede, D. M., & Panjaitan, J. (2021). Masyarakat Batak Toba Di Kabupaten Toba. 1 of 6.

Soedarsono, R.M. (1997). Tarian-Tarian Indonesia. Proyek pengembangan Media kebudayaan.

Soedarsono, R. M.(1998). Seni pertunjukan indonesia di era globalisasi. Jakarta : Depdikbud.

Soedarsono, R. M. (1998). Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi. Gadjah mada University press.

Sugiyono. (2016). Metode penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D. Alfabeta Bandung.

Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan kombinasi ( Mixed method). Alfabeta Bandung.

Takari, M. (2009). Dan sejenisnya dalam budaya Batak di Sumatera Utara: Makna, fungsi, dan tekologi. ResearchGate.

Ulfa, A. (2026). PelatihanTarianTradisionalTor-TorDalamPelestarianBudayaDiJorongTaming Batahan Nagari Barat Kecamatan Ranah Batahan. KARSA : Jurnal pengambidan masyarakat, Vol. 1,No.

Widiarto.T. (2018). Psikologi Lintas Budaya. Widya Sari Press.

Yasraf, P. A. (2004). Dunia yang dilipat : Tamasya melampaui batas-batas kebudayaan. Bandung: Jalasutra.

Published

2026-06-21

Issue

Section

Articles

How to Cite

Nisa, Z., Hardi, H., Mukhti, A. ., & Oktavianus, O. (2026). Tor-Tor Raja-Raja sebagai Identitas Budaya Masyarakat Jorong Silayang Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(4), 6349-6356. https://doi.org/10.63822/hcccn940